SMA NEGERI 2 Wates

Jl. Wahid Hasyim, Bendungan, Wates, Kulon Progo, D.I. Yogyakarta

Smada JAYA

Pengalaman Sekolah Daring dan Bantu Ayah di Warung

Senin, 31 Agustus 2020 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 1287 Kali

Pengalaman baru itu dimulai ketika covid-19 tiba di Indonesia pada bulan Maret 2020. Saat itu untuk pertama kalinya bersekolah bisa dilakukan melalui daring. Saya Ida Arnita yang masih duduk dibangku SMA N 2 Wates juga merasakan sekolah daring. Pertama kali diberitahukan bahwa sekolah diadakan dari rumahsaya berpikiran itu tidak akan lama.

Tapi seiring berjalannya waktu, pandemi Covid-19 tidak kunjung reda. Sekolah daring pun yang mulanya hanya 2 minggu berlanjut hingga kini. Apalagi orang yang terpapar covid-19 terusbertambah.Sayapadahalmerindukansuasanasekolah, bertemudenganteman, guru, danbisamengikutikegiatansekolah yang menyenangkan.

Selama pandemi ini saya mendapatkan pengalaman baru yaitu membantu ayah menjaga warung. Dirumah ayah memiliki warung sembako yang sedari pagi sudah buka. Saat masih pagi dan sekolah daring belum dimulai kebetulan warung tidak ada yang jaga. Pagi hari ayah sudah harus pergi ke pasar untuk belanja sayuran. Setelah selesai belanja, ayah saya masih harus menjualnya berkeliling kampung. Ibu  yang biasanya dirumah membantu terkadang tidak bisa karena harus pergi ke sawah. Maka dari itu saya yang harus menjaganya.

Selama sekolah daring saya mengalami kendala jaringan internet di rumah yang tidak stabil. Ditambah penggunaan kuota yang lebih banyak dari biasanya. Hal itu berbarengan dengan ekonomi keluarga yang menurun di tengah pandemi.Keuntungan yang digunakan kembali sebagai modal mulanya ada,kini perlahan berkurang.Dirasa penghasilan orang lain juga menurun berakibat banyak pembeli yang berhutang di warung. Hal itu terasa langsung saat ayah hendak pergi ke pasar dan bingung harus belanja dengan modal apa.Perlahan jumlah dagangan dikurangi, yang penting cukup untuk makan setiap hari.Terkadang tugas yang menumpuk juga menjadi beban tersendiri. Mungkin guru pun juga bebannya bertambah selama sekolah daring.

Pernah saja rasa kesal itu ada dikala  guru sedang menjelaskan ada pembeli datang. Mau tidak mau saya harus melayani pembeli dahulu. Terkadang memang tidak lama saya harus menjaga warung berbarengan dengan sekolah daring, karena ayah saya yang sudah pulang. Saya pun bisa fokus kembali bersekolah daring dan mengerjakan tugas yang diberikan.

Dalam menghadapi pandemi seperti saat ini saya jadi banyak bersyukur karena masih bisa membantu orang tua dan menyadari betapa pentingnya kehadiran mereka dihidup saya. Ada banyak hal positif yang bisa diambil dari pandemi Covid-19 saat ini. Hal–hal kecil seperti kumpul bersama keluarga, bantu orang tua, dan bertemu tetangga/saudara. Itu semua patut untuk disyukuri.

 

Penulis: Ida Arnita, siswakelas XI MIPA 3

  1. TULISAN TERKAIT